Wednesday, April 29, 2026
spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

1948 organisasi kesehatan dunia WHO didirikan mengukir sejarah

1948 organisasi kesehatan dunia WHO didirikan menjadi sebuah tonggak penting dalam sejarah kesehatan global. Pasca-Perang Dunia II, dunia dihadapkan pada tantangan kesehatan yang luar biasa, mulai dari wabah penyakit menular hingga kerusakan infrastruktur kesehatan yang parah. Kondisi darurat ini memicu kesadaran kolektif akan perlunya sebuah badan internasional yang mampu mengoordinasikan upaya penanganan dan pencegahan penyakit secara global, melampaui batas-batas negara.

Melalui serangkaian negosiasi intensif dan konferensi yang melibatkan berbagai negara, lahirlah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dengan visi mulia untuk mencapai tingkat kesehatan setinggi mungkin bagi semua orang. Pembentukannya bukan sekadar formalitas, melainkan sebuah manifestasi harapan besar dari delegasi-delegasi yang berkumpul, bertekad untuk membangun masa depan yang lebih sehat dan sejahtera bagi seluruh umat manusia.

Latar Belakang dan Pembentukan Organisasi Kesehatan Dunia pada Tahun 1948

Sejarah Singkat dan Alasan Berdirinya WHO, Organisasi Kesehatan Dunia ...

Pembentukan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada tahun 1948 menandai sebuah tonggak penting dalam sejarah kesehatan global. Setelah mengalami kehancuran akibat Perang Dunia II, dunia menyadari betapa krusialnya kerja sama internasional untuk mengatasi masalah kesehatan yang melampaui batas negara. Inilah saatnya komunitas global bersatu, membangun fondasi untuk masa depan yang lebih sehat bagi semua.

Kondisi Kesehatan Global Pasca-Perang Dunia II

Periode pasca-Perang Dunia II diwarnai oleh krisis kesehatan yang masif dan kompleks di berbagai belahan dunia. Konflik global yang berkepanjangan telah menghancurkan infrastruktur kesehatan, menyebabkan jutaan orang mengungsi, dan memicu wabah penyakit menular yang tak terkendali. Kelaparan, kekurangan gizi, dan sanitasi buruk menjadi pemandangan umum, memperparah kondisi kesehatan masyarakat yang sudah rapuh. Berbagai penyakit seperti tuberkulosis, malaria, dan kolera menyebar dengan cepat tanpa adanya sistem penanganan yang terkoordinasi secara efektif.

Situasi ini menciptakan kebutuhan mendesak akan sebuah lembaga global yang mampu memimpin upaya pemulihan dan pencegahan kesehatan, mengatasi dampak perang yang meluas, serta membangun kembali harapan untuk kesehatan yang lebih baik.

Proses Negosiasi dan Konferensi Internasional

Kesadaran akan urgensi tersebut mendorong para pemimpin dunia untuk bertindak, memulai serangkaian diskusi dan negosiasi yang intensif demi membentuk sebuah organisasi kesehatan internasional yang kuat. Proses ini diawali dengan pengakuan dalam Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada tahun 1945 mengenai pentingnya kerja sama internasional di bidang kesehatan.

  • Diskusi Awal dan Usulan: Ide untuk membentuk badan kesehatan dunia yang baru muncul dari para delegasi dalam Konferensi San Francisco pada tahun 1945, yang menghasilkan Piagam PBB. Mereka menyadari bahwa masalah kesehatan tidak bisa dipecahkan hanya oleh satu negara.
  • Konferensi Kesehatan Internasional di New York (1946): Puncak dari upaya awal ini adalah Konferensi Kesehatan Internasional yang diselenggarakan di New York pada bulan Juni-Juli 1946. Lebih dari 50 negara berpartisipasi dalam konferensi ini, menyepakati rancangan konstitusi untuk sebuah organisasi kesehatan baru.
  • Penyusunan Konstitusi: Konstitusi WHO disusun dengan cermat, mencerminkan visi luas tentang kesehatan sebagai hak asasi manusia dan bukan sekadar absennya penyakit. Proses ini melibatkan banyak perdebatan dan kompromi untuk memastikan konstitusi tersebut dapat diterima oleh berbagai negara dengan sistem kesehatan dan politik yang beragam.
  • Proses Ratifikasi: Setelah penandatanganan, konstitusi harus diratifikasi oleh setidaknya 26 negara anggota PBB agar dapat berlaku secara resmi. Proses ini memakan waktu, namun menunjukkan komitmen global yang kuat terhadap tujuan bersama.

Visi Awal Pendirian Organisasi Kesehatan Dunia

Visi awal pendirian WHO sangat ambisius dan revolusioner pada masanya, menegaskan bahwa kesehatan adalah fondasi bagi perdamaian dan keamanan global. Para pendiri berkeyakinan bahwa mencapai standar kesehatan tertinggi adalah hak fundamental setiap manusia tanpa memandang ras, agama, keyakinan politik, atau kondisi ekonomi dan sosial.

“Kesehatan adalah keadaan sejahtera fisik, mental, dan sosial yang lengkap, dan bukan hanya ketiadaan penyakit atau kelemahan.”

Kutipan ini, yang diambil dari Pembukaan Konstitusi WHO, menggambarkan secara lugas filosofi dasar yang menjadi pijakan organisasi. Definisi kesehatan yang holistik ini menyoroti bahwa kesehatan tidak hanya tentang mengatasi penyakit, tetapi juga tentang mencapai kualitas hidup yang optimal dalam berbagai aspek. Visi ini mendorong WHO untuk tidak hanya fokus pada pengobatan, tetapi juga pada pencegahan, promosi kesehatan, dan penentuan faktor-faktor sosial yang memengaruhi kesejahteraan.

Suasana dan Harapan Delegasi pada Penandatanganan Konstitusi

Pada tanggal 7 April 1948, suasana di markas PBB di New York dipenuhi dengan optimisme dan harapan besar saat para delegasi dari berbagai negara berkumpul untuk secara resmi menandatangani Konstitusi Organisasi Kesehatan Dunia. Momen tersebut terasa monumental, sebuah penanda era baru kerja sama global setelah dekade-dekade konflik dan penderitaan. Para delegasi, yang berasal dari latar belakang budaya dan politik yang beragam, berbagi satu tujuan bersama: membangun masa depan yang lebih sehat bagi seluruh umat manusia.

Ada rasa lega sekaligus antusiasme yang kuat, seolah-olah mereka sedang meletakkan batu pertama bagi sebuah bangunan yang sangat dibutuhkan untuk menjaga perdamaian dan kemanusiaan. Mereka membayangkan sebuah dunia di mana penyakit tidak lagi menjadi penghalang utama bagi kemajuan, dan di mana setiap individu memiliki kesempatan yang sama untuk hidup sehat dan produktif. Penandatanganan ini bukan hanya sekadar formalitas, melainkan sebuah ikrar kolektif untuk bekerja sama mengatasi tantangan kesehatan global yang kompleks.

Misi dan Prioritas Utama Organisasi Kesehatan Dunia di Dekade Pertama

Siapa yang Membiayai Organisasi Kesehatan Dunia (WHO)? | tempo.co

Ketika Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) resmi berdiri pada tahun 1948, dunia baru saja pulih dari gejolak besar Perang Dunia II, menyisakan berbagai tantangan kesehatan yang kompleks dan mendesak. Dalam dekade pertamanya, WHO tidak hanya berfokus pada pemulihan, tetapi juga meletakkan fondasi yang kokoh untuk kesehatan global di masa depan. Prioritas awal ini dirancang untuk mengatasi masalah kesehatan paling krusial yang dihadapi masyarakat dunia saat itu, sekaligus membangun kerangka kerja internasional yang berkelanjutan.Fokus utama WHO di masa-masa awal adalah mengidentifikasi dan merespons ancaman kesehatan yang paling mematikan dan meluas, sambil secara bertahap membangun kapasitas negara-negara anggota untuk mengelola masalah kesehatan mereka sendiri.

Inisiatif-inisiatif yang diluncurkan pada periode ini menjadi cetak biru bagi banyak program kesehatan masyarakat global yang kita kenal sekarang.

Tujuan Utama Konstitusi Organisasi Kesehatan Dunia

Konstitusi Organisasi Kesehatan Dunia yang disahkan pada tahun 1948 secara jelas menguraikan tujuan-tujuan ambisius yang menjadi panduan bagi seluruh aktivitas organisasi. Tujuan-tujuan ini tidak hanya berorientasi pada penyembuhan penyakit, tetapi juga pada peningkatan kualitas hidup secara menyeluruh. Berikut adalah beberapa tujuan utama yang ditetapkan:

  • Mencapai tingkat kesehatan setinggi mungkin bagi semua orang di seluruh dunia, sebuah visi yang sangat inklusif dan progresif untuk zamannya.
  • Membantu pemerintah dalam memperkuat layanan kesehatan mereka, termasuk pelatihan tenaga medis dan pengembangan infrastruktur.
  • Mendorong kerja sama internasional dalam pengendalian penyakit menular, yang saat itu menjadi ancaman global utama.
  • Mempromosikan kesehatan ibu dan anak, serta meningkatkan gizi dan kebersihan lingkungan.
  • Menetapkan standar internasional untuk produk biologis, farmasi, dan prosedur diagnostik, demi memastikan kualitas dan keamanan.
  • Melakukan dan mempromosikan penelitian di bidang kesehatan, serta menyebarkan pengetahuan ilmiah.
  • Mengembangkan dan mempromosikan kesehatan mental, menyadari pentingnya kesejahteraan psikologis.

Tantangan Kesehatan Global dan Respons Awal Organisasi Kesehatan Dunia

Pada tahun 1948, dunia dihadapkan pada spektrum tantangan kesehatan yang luas, mulai dari penyakit menular yang merajalela hingga kurangnya infrastruktur kesehatan dasar. WHO segera merumuskan respons awal untuk menghadapi masalah-masalah ini, dengan fokus pada intervensi yang paling berdampak. Tabel berikut menyajikan perbandingan antara tantangan mendesak dan respons awal yang diusulkan oleh WHO.

Tantangan Utama Penyakit Prioritas Strategi Awal Capaian Diharapkan
Penyakit Menular Endemik dan Epidemi Tuberkulosis, Malaria, Sifilis, Tifus Kampanye imunisasi massal, program pemberantasan vektor (misalnya DDT untuk malaria), pengobatan massal. Penurunan signifikan angka morbiditas dan mortalitas, pencegahan wabah berskala besar.
Kurangnya Sanitasi dan Akses Air Bersih Kolera, Disentri, Penyakit bawaan air lainnya Promosi kebersihan lingkungan, penyediaan air bersih, pembangunan sistem sanitasi dasar. Peningkatan kesehatan masyarakat melalui pengurangan penyakit terkait air dan sanitasi.
Gizi Buruk dan Kelaparan Kekurangan vitamin, protein-energi malnutrisi Program pendidikan gizi, distribusi suplemen, promosi pertanian yang lebih baik. Peningkatan status gizi, terutama pada anak-anak dan ibu hamil.
Kurangnya Infrastruktur dan Tenaga Kesehatan Semua penyakit, akses terbatas ke layanan medis Bantuan teknis untuk membangun fasilitas kesehatan, pelatihan dokter, perawat, dan tenaga kesehatan lainnya. Peningkatan kapasitas sistem kesehatan nasional, akses layanan medis yang lebih luas.

Program Kesehatan Masyarakat Pertama Organisasi Kesehatan Dunia

Untuk mengatasi penyakit menular yang menjadi momok utama, WHO meluncurkan beberapa program kesehatan masyarakat yang inovatif dan ambisius di dekade pertamanya. Program-program ini dirancang untuk memberikan dampak yang luas dan berkelanjutan, seringkali melalui pendekatan yang terkoordinasi secara internasional. Beberapa contoh program awal tersebut meliputi:

  • Program Pengendalian Malaria: Salah satu program paling ambisius adalah kampanye pemberantasan malaria, yang melibatkan penyemprotan insektisida (seperti DDT) secara luas dan pengobatan profilaksis. Tujuannya adalah untuk mengeliminasi nyamuk pembawa malaria di daerah-daerah endemik.
  • Program Pengendalian Tuberkulosis (TB): WHO memberikan dukungan besar untuk pengembangan dan distribusi vaksin BCG, serta program skrining dan pengobatan massal untuk TB, yang saat itu merupakan salah satu penyebab kematian utama di banyak negara.
  • Kampanye Pemberantasan Penyakit Venerea: Dengan sifilis dan gonore yang merajalela, WHO meluncurkan program untuk mendiagnosis dan mengobati penyakit menular seksual ini, seringkali bekerja sama dengan pemerintah daerah untuk menyebarkan kesadaran dan akses pengobatan.
  • Inisiatif Kesehatan Ibu dan Anak: Menyadari tingginya angka kematian ibu dan bayi, WHO memulai program yang berfokus pada perawatan prenatal, persalinan yang aman, dan imunisasi anak, meletakkan dasar bagi program imunisasi global.
  • Peningkatan Sanitasi Lingkungan: WHO juga memberikan perhatian pada perbaikan sanitasi dan penyediaan air bersih sebagai langkah pencegahan penyakit, melalui proyek-proyek percontohan dan bimbingan teknis kepada negara-negara anggota.

Pembangunan Kerja Sama Internasional dalam Isu-isu Kesehatan

Sejak awal berdirinya, Organisasi Kesehatan Dunia secara aktif berupaya membangun kerja sama internasional dalam isu-isu kesehatan, menyadari bahwa penyakit tidak mengenal batas negara. Upaya ini menjadi inti dari filosofi WHO dan tercermin dalam berbagai inisiatif:

“Kesehatan semua masyarakat adalah fundamental bagi pencapaian perdamaian dan keamanan dan tergantung pada kerja sama individu dan negara.”

Pernyataan ini dari konstitusi WHO menggarisbawahi pentingnya kolaborasi lintas batas. WHO membangun kerja sama internasional melalui beberapa mekanisme kunci:

  • Pertukaran Informasi Epidemiologi: WHO mendirikan sistem untuk mengumpulkan dan menyebarkan informasi tentang wabah penyakit dan tren kesehatan global, memungkinkan negara-negara untuk merespons dengan cepat dan terkoordinasi.
  • Komite Ahli Internasional: Pembentukan berbagai komite ahli yang terdiri dari ilmuwan dan praktisi terkemuka dari seluruh dunia. Komite-komite ini bertugas merumuskan pedoman, rekomendasi, dan standar internasional di berbagai bidang kesehatan, mulai dari farmasi hingga nutrisi.
  • Bantuan Teknis dan Konsultasi: WHO menyediakan bantuan teknis langsung kepada negara-negara anggota yang membutuhkan, mengirimkan tim ahli untuk membantu dalam perencanaan program kesehatan, pelatihan, dan implementasi proyek.
  • Harmonisasi Standar Kesehatan: Organisasi ini bekerja untuk menciptakan standar dan nomenklatur kesehatan yang seragam secara internasional, seperti Klasifikasi Penyakit Internasional (ICD), yang sangat penting untuk perbandingan data kesehatan antar negara.
  • Koordinasi Program Lintas Batas: Untuk penyakit menular yang menyebar melintasi perbatasan, WHO memainkan peran penting dalam mengoordinasikan upaya pengendalian dan pemberantasan antar negara, memastikan bahwa tindakan di satu negara tidak sia-sia karena kurangnya tindakan di negara tetangga.

Kontribusi Awal Organisasi Kesehatan Dunia terhadap Peningkatan Kesehatan Global: 1948 Organisasi Kesehatan Dunia Who Didirikan

Apa Itu WHO? Ini Sejarah, Tugas dan Fungsinya

Setelah pendiriannya pada tahun 1948, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dengan cepat mengambil langkah strategis untuk mengatasi berbagai tantangan kesehatan yang mendesak di seluruh dunia. Fokus utama WHO di tahun-tahun awal adalah membangun fondasi kuat bagi kerja sama kesehatan internasional dan memberikan dampak nyata terhadap kehidupan masyarakat. Berbagai inisiatif penting segera diluncurkan, menunjukkan komitmen organisasi ini dalam mewujudkan kesehatan yang lebih baik bagi semua.

Pembentukan Standar dan Norma Kesehatan Internasional

Salah satu peran krusial WHO pada dekade pertamanya adalah membentuk standar dan norma kesehatan yang diakui secara global. Organisasi ini menyadari pentingnya kerangka kerja bersama untuk memastikan penanganan masalah kesehatan yang efektif dan terkoordinasi antarnegara. Melalui upaya ini, WHO berhasil menciptakan landasan bagi praktik kesehatan publik yang seragam dan berlandaskan bukti.

  • WHO memprakarsai pengembangan Peraturan Kesehatan Internasional (International Health Regulations), yang bertujuan untuk mencegah penyebaran penyakit menular lintas batas negara, sekaligus meminimalkan gangguan terhadap lalu lintas dan perdagangan internasional. Regulasi ini menjadi acuan penting bagi negara-negara anggota dalam merespons ancaman kesehatan global.
  • Organisasi ini juga berperan besar dalam standardisasi klasifikasi penyakit dan penyebab kematian melalui revisi dan promosi International Classification of Diseases (ICD). Sistem ini memungkinkan pengumpulan data kesehatan yang konsisten dan perbandingan statistik kesehatan antarnegara, sebuah langkah fundamental untuk memahami pola penyakit global.
  • Pembentukan standar untuk obat-obatan, vaksin, dan diagnostik menjadi prioritas. WHO bekerja untuk memastikan kualitas, keamanan, dan efikasi produk-produk kesehatan esensial, yang sangat penting terutama bagi negara-negara yang belum memiliki kapasitas regulasi yang kuat.
  • Selain itu, WHO juga mengembangkan pedoman dan rekomendasi untuk berbagai aspek kesehatan masyarakat, mulai dari sanitasi, gizi, hingga kesehatan ibu dan anak, yang menjadi panduan bagi negara-negara dalam merumuskan kebijakan kesehatan nasional mereka.

Pencapaian Signifikan dalam Pemberantasan Penyakit, 1948 organisasi kesehatan dunia who didirikan

Di masa-masa awal operasinya, WHO meluncurkan berbagai kampanye pemberantasan penyakit yang ambisius, menargetkan penyakit menular yang menjadi momok bagi jutaan orang. Upaya ini sering kali melibatkan kerja sama lintas negara dan mobilisasi sumber daya besar-besaran, menunjukkan kekuatan pendekatan kolektif dalam kesehatan global.

  • Malaria: WHO memulai program pengendalian malaria yang luas, termasuk kampanye penyemprotan insektisida berbasis DDT dan pengawasan epidemiologi. Meskipun pemberantasan total belum tercapai, upaya ini secara signifikan mengurangi beban penyakit di banyak wilayah dan meletakkan dasar untuk strategi pengendalian malaria di masa depan.
  • Tuberkulosis (TBC): Organisasi ini mendukung program vaksinasi BCG massal dan pengembangan strategi pengobatan TBC yang lebih efektif. Tujuannya adalah mengurangi insiden penyakit dan menyelamatkan jutaan nyawa, terutama di negara-negara berkembang.
  • Frambusia (Yaws): WHO meluncurkan kampanye pemberantasan frambusia yang sangat berhasil, terutama di tahun 1950-an. Dengan penggunaan penisilin yang mudah dan efektif, jutaan orang di Asia, Afrika, dan Amerika Latin berhasil disembuhkan dari penyakit kulit yang melemahkan ini, mengubah kehidupan komunitas yang terinfeksi secara drastis.
  • Cacar (Smallpox): Meskipun program eradikasi cacar secara global baru diluncurkan lebih masif di kemudian hari, WHO di tahun-tahun awalnya sudah melakukan upaya-upaya awal dalam pengawasan dan vaksinasi, yang menjadi fondasi penting bagi keberhasilan program eradikasi cacar terbesar dalam sejarah kesehatan manusia.
  • Kolera dan Penyakit Menular Lainnya: WHO juga fokus pada pengawasan penyakit menular akut lainnya seperti kolera, tifus, dan demam kuning, dengan memberikan panduan tentang sanitasi, kebersihan air, dan tindakan pencegahan epidemi.

Dampak Nyata Intervensi Kesehatan di Tahun 1950-an

Bayangkan sebuah desa terpencil di Asia Tenggara pada pertengahan tahun 1950-an. Di sana, penyakit frambusia telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Anak-anak dan orang dewasa menderita lesi kulit yang menyakitkan dan cacat tulang, menghambat mereka untuk bekerja atau bersekolah. Kehidupan terasa berat, dengan angka kematian yang tinggi, terutama pada anak-anak. Kemudian, tim kesehatan yang didukung WHO tiba.

Mereka membawa jarum suntik, penisilin, dan harapan.

Dengan sigap, tim tersebut melakukan pemeriksaan massal dan menyuntikkan penisilin kepada setiap penduduk yang terinfeksi. Dalam beberapa minggu, lesi kulit mulai sembuh, rasa sakit mereda, dan cacat tulang pun berhenti berkembang. Anak-anak yang tadinya terpinggirkan kini bisa bermain lagi tanpa rasa malu atau sakit. Para petani dapat kembali bekerja di ladang, dan ibu-ibu dapat merawat keluarga mereka dengan lebih baik.

Desa yang tadinya murung kini dipenuhi tawa dan semangat baru. Intervensi sederhana namun terkoordinasi ini tidak hanya menyembuhkan penyakit fisik, tetapi juga memulihkan martabat dan masa depan sebuah komunitas, menjadi bukti nyata bagaimana WHO mampu membawa perubahan positif secara langsung pada kehidupan masyarakat.

Penguatan Sistem Kesehatan di Negara Berkembang

Di dekade pertama setelah pendiriannya, WHO menyadari bahwa untuk mencapai kesehatan global yang berkelanjutan, penting untuk tidak hanya memberantas penyakit tetapi juga membangun kapasitas kesehatan yang kuat di setiap negara. Oleh karena itu, organisasi ini memberikan perhatian serius pada penguatan sistem kesehatan, terutama di negara-negara berkembang yang baru merdeka atau masih dalam tahap pembangunan.

WHO memberikan bantuan teknis kepada kementerian kesehatan negara-negara berkembang, membantu mereka dalam merumuskan kebijakan kesehatan nasional yang efektif dan terstruktur. Ini termasuk dukungan dalam pengembangan infrastruktur dasar kesehatan, seperti pembangunan pusat kesehatan masyarakat dan laboratorium. Selain itu, pelatihan tenaga kesehatan lokal menjadi prioritas utama. WHO membantu melatih dokter, perawat, dan petugas kesehatan masyarakat, membekali mereka dengan pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk memberikan layanan kesehatan yang berkualitas.

Pendekatan ini bertujuan untuk menciptakan sistem kesehatan yang mandiri dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat setempat, memastikan bahwa kemajuan kesehatan yang dicapai dapat dipertahankan dalam jangka panjang.

Ulasan Penutup

A brief history of the World Health Organization - The Lancet

Dengan demikian, pendirian Organisasi Kesehatan Dunia pada tahun 1948 bukan hanya menandai lahirnya sebuah institusi, melainkan dimulainya sebuah era baru dalam upaya kolektif menjaga dan meningkatkan kesehatan global. Dari penentuan standar hingga program pemberantasan penyakit, kontribusi awal WHO telah meletakkan fondasi kuat bagi sistem kesehatan internasional yang kita kenal saat ini. Warisan dan semangat awal WHO terus relevan, mengingatkan kita akan pentingnya kerja sama lintas batas untuk menghadapi setiap tantangan kesehatan, demi kesejahteraan seluruh penghuni bumi.

Kumpulan FAQ

Kapan tanggal pasti Konstitusi WHO mulai berlaku?

Konstitusi WHO secara resmi mulai berlaku pada tanggal 7 April 1948, yang kini diperingati sebagai Hari Kesehatan Sedunia.

Siapa Direktur Jenderal pertama WHO?

Direktur Jenderal pertama WHO adalah Dr. Brock Chisholm dari Kanada, yang menjabat dari tahun 1948 hingga 1953.

Di mana markas besar WHO pertama kali didirikan?

Markas besar WHO didirikan di Jenewa, Swiss, sejak awal pendiriannya.

Apa alasan pemilihan tanggal 7 April sebagai Hari Kesehatan Sedunia?

Tanggal 7 April dipilih karena merupakan hari di mana Konstitusi WHO mulai berlaku pada tahun 1948, menandai dimulainya misi organisasi tersebut.

Berapa jumlah negara anggota awal WHO pada tahun 1948?

Pada saat Konstitusi WHO mulai berlaku, terdapat 26 negara anggota yang meratifikasi konstitusi tersebut.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Popular Articles